TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA

Rabu, 10 Agustus 2011

AKU MENCINTAIMU SAYANG

“Sungguh…., saya benar-benar tidak bisa mengerti mengapa banyak perempuan yang tidak bisa menghormati suaminya dalam kehidupan perkawinan mereka. Mereka bertingkah seenaknya. Tidak mau lagi melayani kebutuhan suaminya dengan sukacita. Beda dengan saat-saat awal pernikahan atau pada masa pacaran….. begitu manis dan menyenangkan…..” tanyaku dengan pertanyaan yang mungkin sangat sulit untuk di jawab.

Obrolan ringan ini muncul ditengah-tengah kesibukan kerja aku dan Anny, teman sekerja satu ruangan.

Dan obrolan ringan ini berkaitan dengan kesaksian Anny tentang tetangga sebelah rumahnya yang hari Jum’at kemarin dipanggil Tuhan, karena menderita penyakit kanker payudara.

Berawal dari penyakit lupus yang diderita Nengsih, ibu muda dengan dua anak balita. Karena kasih sayang yang kuat pada anak dan suami, ibu muda itu mengkonsumsi obat yang bisa menyembuhkan penyakit lupusnya, tetapi obat itu berdampak mengikis daya tahan tubuhnya terhadap serangan berbagai penyakit.

Bermula dari benjolan kecil di payudara, yang dideteksi sebagai tumor biasa, karena semakin membesar akhirnya, benjolan itu dioperasi.

Anny bercerita bahwa Nengsih adalah pribadi yang tertutup, dan kesan tertutup itu mungkin disebabkan karena dari seluruh kakak yang sangat berhasil dalam kehidupan mereka, hanya Nengsih yang pendidikannya minim, karena kemampuannya yang terbatas.

Ia hanya bersekolah di sekolah biasa, sementara kakak-kakaknya di sekolah andalan.

Setelah berumah tangga, kehidupan mereka juga sederhana bila dibandingkan dengan keluarga kakak-kakaknya.

Setelah beberapa waktu menikah, kejutan diperlihatkan Nengsih. Ia muncul dengan penampilan baru yang semakin tertutup, seluruh wajahnya tertutup cadar hitam, hanya sepasang matanya yang terlihat.

Menurut cerita kakak Nengsih saat Anny melawat kerumah duka. Penyakit yang dideritanya itu juga suaminya tidak mengetahuinya, karena ia tidak pernah sekalipun menceritakan pada suaminya dan juga saudara serta orang tuanya.

Semua rasa sakit itu ditelannya sendiri. Sampai benjolan itu berpindah ke payudara yang lainnya, dan ternyata sudah berupa kanker ganas. Penyakit itu hanya diobati dengan obat-obatan tradisionil dan herbal.

Bukannya membaik, tapi malah menyebabkan semakin parah. Membengkak dan mengeluarkan cairan bernanah yang berbau busuk….

Saat-saat menjelang ajalnya, dimana rasa sakit sudah tidak tertahankan lagi. Dengan menuliskan pada secarik kertas dengan upaya yang sangat keras karena kesakitan yang sangat, Nengsih meminta dibawa ke rumah sakit.

Namun semua sia-sia, nyawanya tidak tertolong lagi. Dia pergi ke keabadian menghadap Sang Pencipta dengan merengkuh dada menahan kesakitan yang tidak tertahankan.

Aku dan Anny terlibat dalam percakapan tentang kesedihan dan derita Nengsih. Bagaimana mungkin antara suami isteri tidak saling mengetahui kalau pasangannya menderita penyakit yang mematikan. Dan sang isteri yang begitu kokohnya menyembunyikan penderitaannya, hanya karena tidak ingin suami dan keluarganya direpotkan.

“Apa mungkin suaminya tidak tahu kalau ada benjolan aneh di dada isterinya…? “tanyaku heran.

“Mungkin saja Lisa, karena memang ada juga pasangan suami isteri yang tertutup walau sedang melakukan hubungan intim….” Sahut Anny dengan wajah serius.

Pembicaraan kami sampai melantur hingga terlontar pertanyaanku, “Sungguh…., saya benar-benar tidak bisa mengerti mengapa banyak perempuan yang tidak bisa menghormati suaminya dalam kehidupan perkawinan mereka. Mereka bertingkah seenaknya. Tidak mau lagi melayani kebutuhan suaminya dengan sukacita. Beda dengan saat-saat awal pernikahan atau pada masa pacaran….. begitu manis dan menyenangkan…..”.

Anny menghela nafas panjang, “Lisa…. Dengan berlalunya waktu…., perkawinan terkadang membuat sikap egois muncul, terutama dari pihak kita perempuan. Apalagi kita juga bekerja. Terus terang saya juga pernah mengalaminya. Dimana karena sudah penat dikantor dan tiba di rumah semakin capek lagi.

Bila suami minta dibuatkan teh, terkadang saya dengan kesal menjawab, ‘ bikin saja sendiri, air panas ada di termos. Saya capek…’. Saya juga sering ngomel berkepanjangan kalau suami tidak mau bantu bersih-bersih rumah yang berantakan, atau nyuci baju kotor, nyuci piring…

Karena capek, saya juga terkadang menolak ajakannya untuk bercinta…. Bila pagi hari, saya biasanya hanya menyiapkan makanan untuk anak kami, sementara untuk suami hanya sekedarnya. Saya bersyukur suami saya baik orangnya, dia tak pernah mengeluhkan sikap saya yang sebenarnya keterlaluan…..

Namun saya bersyukur, sikap saya sebagai isteri yang kurang berbakti pada suami itu akhirnya berubah drastis.

Saya walaupun bagaimanapun capeknya, sekarang selalu sukacita melayani semua kebutuhan suami saya dan kebutuhan anak saya. Saya tidak pernah mengeluh mengurusi rumah tangga kami. Saya selalu sediakan makanan untuk keluarga saya.

Saya selalu merapikan rumah kami sehingga menjadi tempat yang menyenangkan buat keluarga kami. Saya juga selalu bersikap manis dan lembut pada suami saya. Selalu melayani ia dengan kasih sayang.

Mulanya suami saya kaget dengan perubahan sikap saya itu, tapi ia sangat senang.

Kamu tahu Lisa, ia semakin sayang pada saya. Dan kata-kata pujian selalu terlontar dari bibirnya, bahwa saya adalah isteri yang terbaik, dan ia sangat mencintai saya…. Dan terus semakin cinta pada saya..

Kamu tahu apa yng membuat saya berubah Lisa….?” Tanya Anny dengan tatap mata jernih dan tersenyum manis.

“Karena Anny sangat mencintai suami….” Sahutku dengan ringan.

“Itu sudah tentu Lisa. Saya mencintai suami saya dengan sangat. Dia suami yang luar biasa… Tapi bukan hanya itu alasan utamanya….” Kata Anny dengan tersenyum manis.

“Lalu apa….?” Tanyaku dengan rasa penasaran.

“Lisa kamu ingat kan dengan Susy, teman kita yang pada usia muda ditinggal suaminya meninggal…?

Susy kan dekat dengan saya. Waktu saya melawat di rumah duka. Susy merangkul dan menangis keras dalam pelukan saya. Susy dengan bercucuran airmata menyatakan penyesalannya selama almarhum suaminya masih ada.

Suaminya begitu baik dan lembut, dan Susy ditengah tangisannya mengatakan bahwa ia isteri yang tidak baik, isteri yang tidak berbakti pada suami, bahwa ia isteri yang kasar. Isteri yang suka memerintah suaminya untuk melayani dirinya.

Susy menangis dengan tangis yang memilukan dan meneriakkan di depan jenazah suaminya, permohonan maaf dan ampunnya karena selama mereka hidup berumah tangga ia bukanlah isteri yang berbakti dan hormat pada suami, Ia seorang isteri yang egois dan senang menang sendiri. Penyesalan yang sama sekali tidak ada artinya, dan yang disesalinya sepanjang hidupnya…

Lisa, kamu tahu, pemandangan dan jerit tangis penyesalan Susy itu begitu menghantam saya. Saya begitu ngeri dan takut. Saya berterimakasih pada Allah karena masih memberi kesempatan pada saya untuk berubah.

Saya ngeri dengan yang dialami Susy. Dan saya tak mau itu menimpa saya. Saya tahu saya selama ini juga bukan isteri yang baik, berbakti dan hormat pada suami, yang merupakan imam dalam rumah tangga saya.

Sejak saat itu saya berubah total. Saya berusaha untuk menjalani kehidupan saya sebagai seorang isteri yang baik. Saya melayani suami saya dengan sukacita.

Tak pernah lagi saya biarkan suami saya membuat tehnya sendiri, kecuali saya dalam keadaan sangat sakit dan tak bisa bangkit dari tempat tidur.

Tak pernah lagi saya biarkan suami saya makan seadanya. Rumah saya selalu saya usahakan bersih, dan saya sangat berterimakasih kalau suami saya membantu saya. Kami melakukan setiap kegiatan bersama-sama.

Dan Lisa, ternyata semua itu sangat membahagiakan saya dan suami. Hubungan kami semakin mesra, dan rasa cinta kasih itu semakin meronai hati dan kehidupan kami.

Kami saling terbuka untuk menyenangkan hati satu sama lain….” Perasaan bahagia yang dirasakan Anny mengalir nyaman di hatiku.

Saling pengertian dan menghormati satu sama lain dalam hubungan suami isteri, ternyata menimbulkan sukacita dan kebahagiaan yang tidak terkira. Dan aku yakin, hubungan suami isteri seperti itulah yang berkenan di mata Tuhan.

(Efesus 5:22-25) Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.

Wives, be subject to your own husbands as to the Lord. For the husband is head of the wife as Christ is the Head of the church, Himself the Savior of body. As the church is subject to Christ, so let wives also be subject in everything to their husbands. Husbands, love your wives, as Christ loved the church and gave Himself up for her,

------------------------------------------

LORD JESUS bless you and me, now and forever. Amen.

Renungan malam Lisa Fransisca

0 komentar:

Poskan Komentar