TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA

Sabtu, 03 Juli 2010

"Wawancara dengan Tuhan" (Renungan)

TUHAN: "Selamat pagi wartawan muda, benarkah
kau ingin mewawancarai
Aku?"
WARTAWAN: "Ya, sekiranya Tuhan punya waktu sedikit."
TUHAN: "O, waktu-Ku adalah
kekekalan. Tak masalah itu!
Apa pertanyaanmu?"
WARTAWAN: "Terima kasih.
Apa yang paling
mengherankan bagi Tuhan
tentang kami manusia?"
TUHAN: "Menurut-Ku, kalian itu makhluk yang aneh. Pertama, suka mencemaskan
masa depan sampai lupa hari
ini. Kedua, kalian hidup seolah-olah tidak bakal mati
dan mati seolah-olah tidak pernah hidup. Ketiga, kalian cepat bosan sebagai anak-anak dan terburu-buru ingin dewasa. Namun sesudah
dewasa rindu lagi jadi anak-anak: suka bertengkar,
ngambek, ngeyel, dan ribut karena soal-soal sepele.
Keempat, kalian rela kehilangan kesehatan demi
mengejar uang, tetapi
membuangnya kembali untuk
mengembalikan kesehatan itu.
Hal-hal begitulah yang membuat hidup kalian susah."
WARTAWAN: "Lantas apa
nasihat Tuhan agar kami hidup bahagia?"
TUHAN: "Lho? Semua nasihat
' kan sudah pernah Kuberikan. Ini satu lagi
keanehan kalian: suka melupakan nasihat-Ku. Tetapi karena majalahmu dibaca semua orang, baiklah
Kuulangi beberapa yang
terpenting.
(1) Kalian harus sadar bahwa
mengejar rezeki adalah sebuah kesalahan. Yang
seharusnya kalian lakukan
ialah menata diri agar kalian layak dikucuri rezeki. Jadi, jangan mengejar rezeki,
tetapi biarlah rezeki yang
mengejar kalian. (2) Siapa yang kalian miliki lebih
berharga daripada apa yang kalian punyai. Jadi,
perbanyaklah teman, kurangi
musuh. Ingat, seribu kawan
masih kurang, satu lawan
terlalu banyak.
(3) Membandingkan rezeki sendiri dengan rezeki orang lain adalah sebuah kebodohan. Kalian seharusnya mensyukuri apa
yang sudah kalian terima.
Khususnya, kenalilah talenta
dan potensi yang kalian miliki lalu kembangkanlah itu sebaik-baiknya, maka kalian akan menjadi manusia unggul.
Pada kondisi ini jugalah rezeki akan selalu mengikuti kalian.
(4) Orang terkaya di antara
kalian bukanlah dia yang mengumpulkan paling banyak,
tetapi dia yang paling memerlukan sedikit sehingga
masih sanggup memberi bagi
sesamanya.
(5) Orang terbesar di antara kalian ialah dia yang
menolong orang lain menjadi besar, bukan yang membesarkan dirinya dengan
mengejar berbagai gelar dan jabatan. Yang terakhir ini
mendatangkan sinisme sedangkan yang pertama mendatangkan afeksi. Jadi, kalian harus mendalami lagi
makna pelayanan. (6) Dua orang bisa melihat dan mengalami hal yang sama tetapi menghayatinya secara berbeda. Jadi belajarlah
memahami pikiran dan
perasaan orang lain. Secara khusus, jangan pernah memutlakkan pendapat kalian
sendiri. Bertanya,
mendengar, dan berdialog lebih baik daripada beropini, berteori, dan saling membantah.
(7) Bila kalian berbuat salah,
tidak cukup hanya mendapat
ampunan dari-Ku, tetapi kalian juga harus belajar
mengampuni diri sendiri. Itu saja. Bila kalian mengamalkan
tujuh nasihat ini, niscaya kalian baik-baik saja."
WARTAWAN: "Dahulu lewat
Nabi Musa, Tuhan
memberikan Sepuluh Nasihat,
tidakkah Tuhan menambah dua lagi agar sempurna?"
TUHAN: "Memang sepuluh itu angka sempurna, tetapi tujuh juga sempurna. Jadi, itu sudah lengkap. Tapi karena kau wartawan pemberani
Kuberi bonus satu: Ingatlah,
dalam semua kesusahan
kalian, Aku selalu siap membantu. Jadi, jangan kalian sia-siakan keahlian-Ku. Dan
Aku pun masih seperti yang
dulu: Maha pengasih lagi
Maha penyayang! Segitu aja.
Semoga kalian sukses dan selalu bahagia!"
"Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri
bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah
yang akan menyembuhkan
tubuhmu dan menyegarkan
tulang-tulangmu".(Amsal
3:7-8)
(Diadaptasi dari epilog buku
Mengubah Pasir Menjadi Mutiara oleh Jansen H.
Sinamo)
(Edisi 3, Penerbit Mahardika,
Jakarta, 2007).
Sumber:Jansen H. Sinamo/Guru Etos Indonesia-
Pemimpin Institut Darma Mahardika
www.insitutmahardika.com

Blessing Family Centre Surabaya

0 komentar:

Posting Komentar