TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA

Sabtu, 14 Agustus 2010

PEMBELOT DEWI KWAN IM (Pdt. Eddy Tatimu)

Taipak dan guru Yoga : Eddy
Tatimu
(Seperti dikisahkan Bpk.
Eddy Tatimu kepada Kabar
Baik)
Silat! Ya, sifat dan karakter
hidupku dibentuk oleh buku-
buku silat Cina yang baca.
Begitu banyak. Buku-buku
silat Tiongkok seperti Chi
Yung atau Kho Ping Ho itu
mengandung ilmu yang
sangat tinggi.
Begitu asyiknya saya
membaca, sehingga menjiwai
saya bahkan menguasai roh
saya. Pendeknya buku silat
itu seperti belahan jiwa saya.
Kalau dapat saya katakan,
buku-buku yang saya baca
seperti memiliki roh. Betapa
tidak, tiap kali membaca, roh
saya seperti tenggelam
dalam cerita buku silat itu.
Sejak usia 16 tahun.
Sejak kecil saya sudah
terbiasa dengan buku-buku
silat Cina. Sebenarnya kalau
hanya sekedar baca tidak
menjadi soal, sekedar untuk
mengetahui. Tapi buku-buku
itu mengajarkan sebuah ilmu
atau beberapa ilmu, yaitu
ilmu untuk menghilang,
berjalan diatas bara api,
disiram minyak mendidih dan
anehnya saya ingin sekali
mempelajari, menguasai dan
mem-praktekan ilmu itu.
Untuk dapat menguasai ilmu-
ilmu itu, ada beberapa syarat
yang perlu dilakukan, seperti
melakukan yoga, meditasi,
membaca mantra-mantra dan
permohonan doa kepada
dewa-dewa.
Karena ingin menguasai ilmu,
saya mulai belajar yoga
dalam usia 16 tahun, masih
remaja. Ini dimulai tahun
1964, yakni ketika saya
masih duduk di kelas II SMA
di Manado, Sulawesi Utara,
tepatnya di sebuah Klenteng
besar di kota Manado.
Dari keluarga
Budha
Saya terlahir dari keluarga
Budha. Saya lahir di kota
Siau, Sangir Talaud, Sulawesi
Utara, tanggal 06 Agustus
1948. Ayah bernama Ngo
Gian Tiet, Ibu bernama
Suantje Tatimu. Saya sendiri
adalah anak ke-5 dari enam
bersaudara. Kami semua
dilahirkan dari keluarga
Budha. Tetapi lama-lama
kakak-kakak dan adik saya
masuk Kristen, yaitu Kristen
Pantekosta kecuali saya,
tetap Budha, tentu saja
bersama ke dua orang tua
saya.
Meskipun saya bukan
Kristen, mungkin saya lebih
dahulu tahu, bahwa dewanya
orang Kristen itu bernama
Yesus. Soalnya saya juga
mempunyai Alkitab, sebuah
buku yang menulis lengkap
tentang Yesus.
Dewi Kwan Im
Dewi Kwan Im lah tuhan saya.
Dalam buku-buku silat yang
saya baca, Dewi Kwan Im
sangat di junjung tinggi.
Saya menyembah Dewi Kwan
Im sejak mulai belajar Yoga,
yaitu usia 16 tahun. Dalam
melakukan Yoga, ada satu
hal yang sedikit menyiksa
saya, yaitu selalu
mengasingkan diri dari
kesenangan para remaja
seusia saya. Saya belajar
Yoga pada guru terkenal.
Yoga itu mengandung magic.
Jadi dengan beryoga, artinya
saya sudah berada di arena
magic. Saya tidak pernah
menyadari itu sebelumnya.
Setelah ilmu yoga telah saya
kuasai, akhirnya saya
sendiri mempunyai murid 40
– 50 orang.
Mendalami ilmu
Setelah menguasai yoga, dan
kemudian menjadi guru yoga,
tahun 1973, dari Budha saya
pindah agama To (Tao). To
itu adalah satu dari Sam Kau
atau Try Dharma.
Yang dimaksud dengan Sam
Kau atau Try Dharma, yaitu
tiga agama yang masih dalam
satu aliran, masing-masing
adalah : Agama Budha, Kong
Hu Cu dan To.
Untuk lebih jelas, Sam Kau ini
dapat dirinci sebagai berikut.
Budha, agama yang
mengajarkan tentang cinta
kasih, seperti mengasihi
sesama, musuh, binatang
termasuk semut.
Kong Hu Cu, merupakan
agama yang mengajarkan
tentang moral, etika, tata
krama dan kedisiplinan.
To, adalah agama yang
mengajarkan tentang power,
kehebatan atau mujizat,
ilmu-ilmu sakti, termasuk
magic, gaib dll.
Kalau seseorang beragama
Kong Hu Cu, pasti dia tahu
tentang Budha dan
sebaliknya. Penganut agama
To, juga tahu tentang Budha
dan Kong Hu Cu. Tapi Budha
dan Kong Hu Cu tidak akan
pernah tahu tentang To,
kalau mereka tidak
mengkhususkan diri untuk
mempelajarinya.
Dalam usia 16 saya sudah
masuk agama To, dengan
tujuan untuk menguasai ilmu-
ilmu diatas. Dalam agama To
ini, mau tidak mau kita harus
melibatkan diri dalam dunia
roh, dan itu sudah saya
lakukan sejak tahun 1973.
Tidak mudah mengikuti
agama ini. Sejak 1973, setiap
malam saya harus meditasi
selama 2 jam. Itu saya
lakukan selama 20 tahun dan
tiada malam tanpa semedi.
Tiap jam 00.00 saya mulai
semedi sampai jam 02.00 dini
hari. Pada saat-saat tertentu
saya juga bermeditasi di
siang hari. Ada bermacam-
macam cara untuk
bermeditasi. Sering di tempat
sepi, seperti tengah malam.
Tapi sering juga di tempat
ramai, misalnya semedi
sambil menyetel televisi
keras-keras. Ini maksudnya
untuk melatih konsentrasi.
Mengosongkan diri
Dalam kitab Tao Te King,
tujuan orang bermeditasi
adalah mengosongkan diri.
Maksudnya, tidak ada beban
yang memberatkan hati dan
pikiran. Bila pengosongan diri
telah terjadi, kekuatan itu
akan datang. Dalam
kekosongan itu kita kuat.
Kekosongan itu sebenarnya
inti dari meditasi.
Dalam kitab Tao Te King, kita
juga dilarang untuk makan
daging, berhubungan seks
atau hura-hura. Kita hanya
boleh makan nasi, sayur
atau buah. Bahkan saat-saat
tertentu harus bertapa/
puasa.
Di usia remaja, saya menjadi
manusia alim. Waktu saya
hanya habis di Klenteng,
meditasi, bertapa dan belajar
hal-hal yang bersifat
religius. Di samping itu saya
juga tetap aktif bersekolah
sampai kuliah.
Berhubungan
dengan roh
Pada tingkat ilmu tertentu,
saya sudah dapat
berkomunikasi dengan roh-
roh. Tidak hanya sekedar
komunikasi, bahkan roh-roh
itu ada dalam kuasa saya.
Saya dapat mengendalikan
mereka.
Saya suruh satu-dua roh
untuk pergi bergelantungan
di tubuh seseorang, sampai
orang itu merasakan
kesakitan. Kalau saya mau
sampai ia jatuh sakit, bahkan
mati. Tapi sampai tingkat
jatuh sakit tidak pernah
saya lakukan. Melihat roh-
roh itu bisa tunduk sudah
merupakan suatu
kebanggaan. Jadi
berhubungan dengan dunia
roh itu adalah hal biasa. Dan
saya kira setiap taipak atau
paranormal, berhubungan
dengan dunia roh/gaib
adalah kegiatan sehari-hari.
Berjalan diatas
bara api
Untuk masa kini, melihat
orang berjalan di atas bara
api, bukan lagi tontonan
baru. Tapi pada tahun-tahun
70-an sampai 80-an, melihat
orang berjalan diatas bara
api masih merupakan
tontonan yang mendebarkan.
Itulah yang saya lakukan.
Apa yang saya baca dibuku-
buku silat Cina dulu, kini
saya mempraktekan sendiri.
Saya berjalan-jalan dengan
bebas di atas bara api.
Bara itu ditaruh di wadah
sepanjang 5 meter dengan
ketebalan bara kira-kira 20
cm. Kalau diinjak,
pergelangan kaki akan
masuk seluruhnya.
Bagaimana saya bisa
melakukannya tanpa merasa
kepanasan? Itulah ke-
saktiannya. Roh-roh itu
sangat berperan di sini.
Sebelum bara di injak, saya
cabut kekuatan api atau
panasnya api. Ini berkat
bantuan roh-roh tadi.
Di hari-hari raya China,
biasanya pertunjukan
seperti ini diadakan 25 tahun
sekali. Tapi saya dan teman-
teman dapat melakukannya
tiap hari. Kami anggap itu
adalah main-main saja,
seperti anak-anak bermain
petak umpet.
Disiram minyak
mendidih
Hampir sama seperti berjalan
di atas api. Disiram minyak
mendidih, badan saya tidak
melepuh. Dihadapan orang,
memang nampak minyak itu
panas. Tapi mereka tidak
tahu, sebelum minyak panas
disiramkan, panasnya minyak
sudah saya cabut.
Memang ngeri bagi orang
lain. Tapi ini merupakan
permainan yang
menyenangkan.
Apalagi pengalaman saya
dalam 20 tahun menjadi
pengikut Dewi Kwan Im?
Masih ada. Saya bisa raib.
Orang tidak dapat melihat
saya, meskipun saya ada di
antara mereka. Selain itu,
saya juga bisa memanggil
seseorang secara diam-diam
dan orang itu akan datang
pada saya secara diam-diam
pula. Kalau saya berdiri 50
meter di belakang Anda dan
Anda tiba-tiba menoleh pada
saya, ketahuilah, saya telah
menyuruh satu roh untuk
" menarik" kuping Anda ke
samping, agar bisa melihat
saya.
Im Yang
Inilah ilmu terakhir yang saya
pelajari, bahkan saya
" ciptakan" sendiri, yaitu Im
Yang. Ilmu ini dapat
dikatakan sangat berbahaya,
kalau kita sengaja
memanfaatkannya secara
keliru. Im Yang bisa menolong
orang, bisa juga membunuh
orang.
Untuk menguasai Im Yang,
saya harus mengumpulkan
12 tengkorak kepala anak
kecil, 6 laki-laki dan 6
perempuan. Dan itu artinya
saya harus menyantet 12
anak-anak, untuk
memperoleh tengkorak
mereka. Tetapi belum lagi
ilmu itu terwujud, saya
mengalami sesuatu yang
mengubah seluruh sisa
hidupku.
Dewa orang
Kristen
Dalam sebuah buku Meditasi,
disebutkan bahwa agama To,
yaitu agama saya, memiliki
banyak dewa. Selain Dewi
Kwan Im, ada dewa yang
bernama Goan Shie Thian
Chun, Thai Sang Lo Khun dan
Yo Ong Po Sat. Dewa-dewa
ini adalah raja dibidangnya
masing-masing.
Dalam buku meditasi itu
ternyata ada nama Yesus.
Yesus disana ditulis sebagai
dewanya agama Kristen.
Tidak banyak yang ditulis
tentang Yesus, itu sebabnya
saya menganggap Yesus itu
tidak lebih hebat dari Dewi
Kwan Im atau dewa-dewa lain
tersebut diatas. Bahkan
ketika saya membaca Alkitab,
saya menjadi sangat benci
dengan nama Yesus itu.
Dikatakan dalam buku
Meditasi itu, kalau orang
beragama Budha, Khong Hu
Cu atau To, mereka boleh
memanggil dewa-dewa
tersebut diatas untuk
meminta pertolongan. Tapi
bagi yang beragama Kristen,
dapat memanggil nama
Yesus.
Papa sakit jantung
Tanggal 30 Nopember 1987,
Papa saya mendadak sakit
jantung dan segera dibawa
ke Rumah Sakit Gunung
Wenang Manado, langsung
dimasukan ke Ruang Gawat
Darurat (ICU) karena
kondisinya sudah koma.
Kalau orang normal, detakan
jantungnya 70, tapi Papa
140.
Ada dua dokter yang
menangani penyakit Papa.
Begitu melihat angka 140 di
layar monitor, dokter yang
satu berkata, Papa tidak ada
lagi harapan. Saya mulai
takut, tapi saya tidak putus
asa karena saya belum
memanggil dewa-dewaku.
Dari 140, tiba-tiba naik
secara mendadak menjadi
172. Dokter yang lain datang
dan berkata, Papa dibawa
pulang saja, apa saja yang
Papa minta dituruti saja.
Tidak! Masih ada waktu
bagiku untuk memanggil
dewa-dewaku. Saya mundur
beberapa langkah ke
belakang dan bersemedi.
Saya mengucapkan mantra-
mantra, memanggil dewa
Goan Shie Thian Chun. Dalam
ilmu Cina yang saya pelajari,
Goan Shie Thian Chun adalah
raja ilmu. Saya minta dia,
dengan segala ilmu yang
kumiliki, agar dapat
menolongku untuk
menyembuhkan Papa. Tapi
tiada jawaban.
Saya panggil dewa yang lain,
yaitu Thai Sang Lo Kun. Dia
adalah raja doa. Saya minta
supaya dia menjawab doaku,
yaitu menyembuhkan Papa.
Tapi tidak ada tanggapan.
Papa terkapar tak berdaya.
Dewa Yo Ong Po Sat adalah
raja obat. Saya panggil nama
Yo Ong Po Sat agar
bertindak segera. Papa
sedang gawat. Saya meditasi
dengan berkeringat. Saya
ucapkan mantra-mantra, tapi
dewa yang kusanjung hanya
membisu.
Terakhir saya panggil Dewi
Kwan Im. Ini dewa terakhir
yang menjadi tumpuan
harapan. Setelah ini tidak
ada lagi dewa yang saya
miliki. Tapi sama saja dengan
yang lain. Tidak ada reaksi.
Detakan jantung Papa di
layar mo-nitor masih tetap
172.
Saya heran. Ke mana
perginya segala ilmu yang
kupelajari selama 20 tahun
menjadi pengikut Dewi Kwan
Im? Mengapa dulu saya
begitu sakti, namun kini
kesaktian itu hilang?
Saya menangis. Saya
kecewa, untuk apa 20 tahun
saya menghabiskan banyak
waktu di Klenteng untuk
bersemedi, bertapa dan
belajar bermacam-macam ilmu
sakti? Bukankah dalam buku
Bersemedi, kita boleh
memanggil dewa yang sesuai
dengan agama kita bila
membutuhkan pertolongan?
Rasanya saya ingin
memanggil nama Yesus, tapi
Dia bukan dewa saya. Dia
dewanya orang Kristen, lagi
pula Yesus adalah dewa
yang paling ku benci. Tidak
mungkin aku memanggilNya,
selain itu Yesus belum tentu
lebih hebat dari Dewi Kwan
Im.
Papa tergeletak bagaikan
mayat. Apa lagi yang harus
ku lakukan? Segala upaya
telah dilakukan? Segala
upaya telah dilakukan. Tapi
angka 172 tak juga mau
beranjak turun.
" Yesus", kataku tiba-tiba,
"kalau Engkau mau
menyembuhkan Papaku, aku
mau menjadi pengikutMu "
lanjutku. Aku kembali
mendekati tempat tidur,
dimana Papa tergeletak. Tak
sengaja mataku terbelalak
melihat kelayar monitor. Dari
angka 172 mulai bergerak
turun, 171, 170, 169,
168 ….terus turun sampai 160.
Turun lagi 150. Persis
diangka 148, teriakan Papa
mengejutkan semua yang
ada di ruangan itu. "Aku
hidup lagi', teriak Papa,
sambil menggerakan
tubuhnya, seolah ada
sesuatu yang baru saja
masuk ke dalam tubuh itu.
Mengapa Papa berkata "Aku
hidup lagi" ? Apakah tadinya
dia sudah mati? Saya tidak
terlalu memperdulikan itu,
sebab aku sendiri belum
hilang dari rasa terkejut.
Beberapa menit yang lalu aku
masih memohon-mohon
kepada dewa Goan, dewa
Thai, Yo dan Dewi Kwan Im.
Aku tidak menyangka
secepat ini aku menjadi
pengikut Yesus, sesuatu
yang tak pernah terpikirkan
kemarin, tadi pagi sampai
sejam yang lalu. Secepat
inikah aku beralih
keyakinan? Apakah dewa-
dewa itu tidak akan murka
kalau aku membelot?
Dibaptis
Melihat Papa sudah sembuh,
malam saya tidak bisa tidur.
Bukan karena stress, tapi
saya sangat bahagia,
terkejut dan kagum sudah
bercampur baur. Bagaimana
mungkin saya menjadi
Kristen hanya dalam sekejab.
Tiga minggu setelah mujizat
di RS Gunung Wenang,
Manado itu, saya memberi
diri dibaptis (selam) di Gereja
Pantekosta di Indonesia
(GPdI) Manado.
Pengalaman yang
menakjubkan ini setiap kali
saya saksikan di gereja-
gerja atau persekutuan doa,
kapanpun saya sempat
menyaksikannya.
Meskipun saya sibuk di
kantor (Bapak Eddy Tatimu
adalah Direktur PT.
Innimexintra Jakarta- Red)
tapi tiap kali ada undangan
kebaktian, saya selalu
sempatkan diri untuk
menyaksikan kemurahan
Tuhan pada saya ini. Tentu
saja saya harus pandai –
pandai mengatur waktu
antara kerja dan pelayanan,
supaya tidak ada pihak yang
dirugikan.
Waktu saya terima Yesus,
istri saya juga, Thio Mei Lin
ikut terima Yesus, bersama
dua anak kami, Stanley
Tatimu dan Cicilia Tatimu,
yang kini sudah beranjak
remaja. Saya berbahagia
karena anak dan istri saya
sangat mendukung saya,
tidak hanya dalam
pekerjaan, tapi juga dalam
pelayanan.

--
BLESSING FAMILY CENTRE SURABAYA

0 komentar:

Posting Komentar