TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA

Sabtu, 05 Juni 2010

KISAH : MICHELE PRICE (I)

Kisah : Michelle Price
Michelle Price adalah
gadis kecil periang yang
senang memanjat pohon,
menunggang kuda,
bermain ski, bercerita
tentang banyak kisah,
dan menyanyi. Dengan
keluarga Kristen yang
mengasihi dia, hidup
Michelle seolah tak
memiliki sedikit beban
pun sampai ia berumur 8
tahun, ketika kaki
kanannya mulai terasa
sakit dan bengkak.
Setelah beberapa dokter
melakukan pemeriksaan,
mereka mengatakan
kepada orang tua
Michelle bahwa Michelle
menderita salah satu
jenis penyakit kanker
tulang yang mematikan.
Dokter itu berkata
bahwa kesempatan
untuk hidup kurang dari
4%, dan sebagian besar
kakinya harus
diamputasi.
Orang tua Michelle
sangat ketakutan
tentang bagaimana
mereka harus
menceritakan hal
tersebut kepadanya.
Ketika mereka akhirnya
menceritakan kepada
Michelle, maka reaksi
pertama dari Michelle:
"Oh Papa, saya tidak
akan dapat berdansa
lagi jika saya tidak
memunyai kaki! Saya
tidak mau menjadi
seorang yang cacat!" Dia
menangis terisak-isak
untuk beberapa menit.
Tetapi ketika ia melihat
wajah ibunya dipenuhi
air mata, ia berhenti
menangis, mengambil
napas panjang, dan
berkata, "Saya akan
baik-baik saja, Mami.
Jangan menangis."
Sambil menepuk-nepuk
wajah ibunya, ia
melanjutkan, "Saya
memang takut ketika
Papa menceritakan
kepada saya, tetapi
Yesus membuat hati
saya tenang. Saya akan
baik-baik saja.
Percayalah, Mam."
Michelle, dengan
perlahan, bertanya
kepada ayahnya
mengapa Tuhan
mengizinkan hal ini
terjadi. Dan ketika
ayahnya menjawab tidak
tahu, Michelle berpikir
untuk beberapa saat
sebelum ia berkata,
"Mungkin saya tahu
jawabnya, jika para
dokter itu belum memiliki
obat untuk mengobati
penyakit saya, mungkin
mereka dapat
mempelajari kaki saya
dan menemukannya.
Sehingga mereka dapat
membantu anak-anak
lain yang sakit seperti
saya."
Para dokter
mengamputasi kaki
Michelle sampai 4 -- 5
inci di atas lutut (± 13
cm). Michelle menangis
ketika pertama kali ia
melihat kakinya yang
terbalut. Namun
kemudian, ia
menceritakan kepada
ibunya betapa takutnya
ia pada saat berada
dalam ruang operasi ...
sampai ia mengingat
bahwa ia tidak sendiri.
Yesus berada
bersamanya.
Untuk beberapa waktu
lamanya, Michelle
merasakan rasa sakit
yang menggigit. Urat
syaraf di kakinya terus-
menerus mengatakan
kepada otaknya bahwa
sesuatu yang salah
terjadi sehingga
menyebabkan rasa sakit
itu. Namun, 3 hari
setelah operasi
dilakukan, ia
mengagetkan dokternya
dengan melukis wajah
yang tersenyum pada
pembalut di kakinya
yang buntung. Dokter itu
mengatakan kepada
orang tua Michelle
bahwa biasanya
dibutuhkan waktu
berminggu-minggu
sebelum seseorang
yang diamputasi dapat
menerima keadaannya.
Setelah 5 hari berlalu
semenjak operasi
dilakukan, para dokter
mulai memberikan
kemoterapi kepada
Michelle ... obat yang
sangat kuat yang
diciptakan untuk
membunuh sel-sel
kanker. Dan
dikarenakan kanker
pada Michelle sangat
mematikan, maka mereka
memberikan dosis 1000
kali lebih besar dari
biasanya.
Dalam waktu singkat,
obat itu membuat semua
rambut Michelle rontok.
Setiap pengobatan
membuatnya merasa
amat sakit. Ia muntah
dan menggigil. Tetapi
setiap kali seseorang
datang menjenguknya
dan bertanya bagaimana
rasanya, ia menjawab,
"Doing Ok!", sehingga ia
tidak membuat orang lain
merasa tidak enak.
Setelah 4 minggu berada
di rumah sakit, ia
diizinkan untuk pulang
beberapa hari. Ketika ia
berjalan-jalan dengan
ayahnya, ia menyadari
para tetangga merasa
tidak nyaman berada di
sisinya, karena kaki dan
kepalanya yang gundul.
Untuk membuat mereka
merasa lebih baik, ia
justru mengunjungi
rumah para tetangga
dan menceritakan
kepada mereka tentang
kanker. Bahkan, Michelle
meminta mereka untuk
tidak ragu-ragu
bertanya.
Michelle menjalani
kemoterapi selama 18
bulan dan menunjukkan
sikap tegar yang amat
besar pada saat melalui
semua ketidaknyamanan
itu. Ketika ia merasa
lebih baik, ia
mengunjungi anak-anak
lain di rumah sakit yang
juga menderita kanker
dan berusaha membuat
mereka gembira. Dan
setelah pemeriksaan
menunjukkan bahwa
kankernya telah
sembuh, hati Michelle
dipenuhi rasa ucapan
syukur.
Dengan berjalannya
waktu, ia belajar
bermain ski dengan satu
kaki dan menjalankan
"skate board" serta
bermain "soccer"
dengan menggunakan
kruk (penyangga kaki).


Blessing Family Centre Surabaya

0 komentar:

Posting Komentar